Intelijen Amerika Bongkar Kebohongan China Soal Korban Tewas COVID-19

0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

AMERIKA, Wartaotonomibaru.com – Intelijen Amerika Serikat menuduh China telah berbohong mengenai serangan Virus Corona atau COVID-19. Negara tirai bambu itu diduga kuat telah menyembunyikan data sebenar-benarnya.

Hal itu diungkapkan tiga pejabat penting di Negeri Paman Sam. Mereka mengaku mengetahui hal itu setelah intelijen Amerika Serikat mengirimkan laporan rahasia ke Gedung Putih.

Diberitakan Bloomberg seperti dikutip VIVA Militer, Sabtu 4 April 2020. Ketiga pejabat meminta identitas mereka tak dipublikasikan dengan alasan laporan yang mereka ketahui bersifat rahasia dan mereka tak mau membongkar seluruh isi laporan rahasia intelijen itu.

Hanya saja dalam laporan resminya, China selama ini hanya mengklaim jumlah penduduk yang terinfeksi berada di angka 82.000 kasus dan 3.300 kematian.

Memang, Presiden Donald Trump sempat meragukan pengakuan China soal jumlah korban dan Trump mengklaim Amerika tak pernah berbohong tentang data penderita corona di nergaranya.

“Jumlah mereka tampaknya sedikit di sisi terang, dan saya bersikap baik ketika saya mengatakan itu,” kata Trump dalam pidato penanganan corona di Gedung Putih.

Trump menambahkan bahwa AS dan China selalu berkomunikasi dan Beijing akan menghabiskan $ 250 miliar untuk membeli produk-produk Amerika. “Kami ingin menyimpannya, mereka ingin menyimpannya,” katanya tentang kesepakatan perdagangan AS-China.

Bahkan Wakil Presiden Amerika Mike Pence menduga bahwa corona sebenarnya sudah menyerang China sebulan sebelum ada pengumuman resmi terkait serangan virus itu.

“Kenyataannya adalah bahwa kita bisa lebih baik jika China lebih terbuka. Apa yang tampak jelas sekarang adalah bahwa jauh sebelum dunia mengetahui pada bulan Desember bahwa Cina sedang menangani ini, dan mungkin sebanyak sebulan lebih awal dari itu, bahwa wabah itu nyata di China,” kata Pence beberapa hari lalu.

Baca juga :   Presiden Jokowi Dan Ibu Negara Iriana Negatif Covid-19

Salah satu yang membuat Amerika Serikat meragukan data China ialah, adanya tumpukan ribuan guci abu jenazah di luar rumah duka di Provinsi Hubei saat corona sedang ganas-ganasnya di negara komunis itu.

Ada yang menarik dari informasi terbaru tentang adanya laporan rahasia intelijen Amerika ini. Disebutkan Trump sudah mengetahui informasi ini sejak pekan lalu. Perlu diketahui, pekan lalu merupakan puncak mengganas corona di Amerika Serikat.

Jumlah penderita corona di Amerika Serikat bahkan langsung meledak tinggi hingga melampaui jumlah penderita corona di China. Bahkan, Amerika langsung ditetapkan sebagai pusat pandemi corona. Padahal sebelumnya status pusat pandemi corona disematkan WHO pada China.

Untuk diketahui, berdasarkan data terbaru Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, hingga pukul 05:00 WIB, Sabtu 4 April 2020, Amerika berada di urutan pertama dalam jumlah penderita corona terbanyak dunia. Total penderita corona di Amerika sudah mencapai 270.473 orang,  6.889 meninggal dunia dan 9.445 disembuhkan.

(Ir. Noldy Maramis Kloudia Rompas)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*