Tiongkok Revisi Data Kematian Covid-19 Jadi Naik 50%, Ini Kata WHO

0 0
Read Time:2 Minute, 24 Second

TIONGKOK, Wartaotonomibaru.com – Tim medis Tiongkok tiba di Bandara Internasional Yangon, 8 April 2020.

Revisi kenaikan tajam jumlah kematian akibat virus corona (Covid-19) di Tiongkok pada Jumat (18/4/2020) adalah upaya untuk tidak meninggalkan kasus tanpa dokumen setelah layanan medis di Wuhan kewalahan pada awal wabah. Demikian diungkapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Jumat atau Sabtu pagi (18/4/2020).

Media pemerintah Tiongkok mengatakan, ada tambahan hampir 1.300 orang meninggal karena Covid-19 di kota Wuhan, Tiongkok, atau setengah dari total korban tewas yang dilaporkan sebelumnya, sehingga menjadikan kematian di negara itu sebesar 4.352 orang. Namun Beijing membantah klaim bahwa telah ada penyembunyian data.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Tiongkok telah menyembunyikan korban kematian akibat virus Covid-19. Dia juga menyudutkan WHO karena telah berpihak ke Tiongkok dalam krisis kesehatan. Dampaknya, Trump menangguhkan dana AS ke WHO pada minggu ini.

Virus ini telah menginfeksi lebih dari 2 juta di seluruh dunia dan menewaskan 150.000 orang, menurut penghitungan Wartaotonomibaru.com Revisi serupa dalam jumlah korban tewas juga terjadi di New York City beberapa hari lalu. Kota ini menambahkan lebih dari 3.700 orang yang meninggal di rumah sebelum diuji virus corona.

Ahli epidemiologi WHO yang turut terlibat dalam misi internasional ke Tiongkok pada Februari, Maria van Kerkhove mengomentari tentang angka-angka yang direvisi Tiongkok. “Ini dilakukan dalam upaya untuk tidak meninggalkan kasus tanpa dokumen,” kata dia.

Dia mengatakan pihak berwenang Tiongkok telah memeriksa kembali data dari layanan pemakaman, rumah perawatan, klinik, rumah sakit dan pusat penahanan, dan pasien meninggal di rumah, di Wuhan, Provinsi Hubei di mana wabah dimulai akhir tahun lalu.

Baca juga :   Penambahan Kasus Positif Covid-19 Cetak Rekor, Pakar: Jangan Anggap Remeh

“Apa yang mereka laporkan adalah bahwa perbedaan dalam kasus-kasus ini disebabkan sejumlah faktor,” kata kata van Kerkhove.

Pertama adalah bahwa sistem perawatan kesehatan di Wuhan kewalahan. Selain itu, beberapa pasien meninggal di rumah.

Kedua adalah bahwa staf medis tertunda melaporkan kasus-kasus ini karena fokus melakukan perawatan pada pasien. “Mereka tidak mengisi formulir tepat waktu,” katanya.

Dia mengatakan, sejumlah kasus ringan dirawat di rumah sakit darurat di stadion Wuhan atau fasilitas lainnya. “Dalam situasi itu pelaporan tidak dilakukan tepat waktu, sehingga kasus-kasus itu ditambahkan,” kata dia.

Menurut dia, penting untuk mengetahui jumlah orang meninggal karena Covid-19 dan memiliki pelaporan akurat, karena akan menjadi panduan dan tantangan selama wabah. “Saya akan mengantisipasi bahwa banyak negara akan berada dalam situasi yang sama di mana mereka harus kembali dan meninjau catatannya,” kata dia.

Direktur Kedaruratan WHO Dr. Mike Ryan, mengatakan setiap negara harus menyediakan menyediakan data secepat mungkin dalam upaya mengendalikan pandemi.

Virus ini diyakini berasal dari hewan liar yang dijual di pasar makanan laut di Wuhan yang telah ditutup sejak Januari. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, setiap pasar basah diizinkan untuk dibuka kembali setelah lockdown, namun harus sesuai standar makanan dan kebersihan ketat. “Pemerintah harus secara ketat menegakkan aturan larangan perdagangan satwa liar untuk makanan,” katanya

(Juanfung)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*