Gubernur Jatim: Ada Pemudik Yang Menolak Diisolasi di Kampung Halaman

0 0
Read Time:2 Minute, 5 Second

JAKARTA,Wartaotonomibaru.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya keras menangani persebaran virus Corona atau Covid-29. Di antaranya dengan mendirikan ruang observasi hingga tingka desa.

Kendati begitu, ada beberapa kendala ditemui di lapangan sehingga proses tracing agak sulit dilakukan. Kendala itu di antaranya keengganan sebagian pemudik dari luar provinsi melakukan observasi.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, sebetulnya jumlah desa/kelurahan di Jatim yang memiliki ruang observasi untuk kasus covid-19 terus bertambah. Per Jumat, 10 April 2020, total sudah terdapat sebanyak 3.631 desa/kelurahan yang memiliki ruang observasi, atau setara 47,02 persen. Ruang observasi itu di antaranya disiapkan bagi para pekerja di luar provinsi yang pulang kampung atau mudik.

Masalahnya ada sebagian pemudik yang menolak untuk menjalani proses observasi atau isolasi. “Kami dapat informasi karena di antara 3.631 (ruang observasi) itu ada yang (lokasinya) di gedung SD. Maka ada (pemudik) yang menolak, kok, saya mau dibawa ke sekolah dasar. Ini true story,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Jumat malam, 10 April 2020.

Demi keselamatan diri, keluarga dan masyarakat, Khofifah meminta agar para pemudik tidak enggan melaporkan diri apalagi menolak diobservasi. “Saya ingin menyampaikan kabar yang sampai kepada saya, kalau mereka baru mudik dari Jabodetabek mohon dengan sangat jangan menolak jika harus melalui proses observasi atau isolasi,” ujarnya.

Di bagian lain, mantan Menteri Sosial itu menjelaskan, sejak Jumat ini terdapat 527 area pemukiman di Jatim yang menerapkan area tertib physical distancing, dengan melibatkan 39 Kepolisian Resor (Polres) dan TNI se Jatim. Ini penting, sebagai salah satu upaya untuk memutus rantai penularan covid-19, serta menjaga diri dan lingkungan tetap sehat.

Baca juga :   Polda Metro Kerahkan 5.000 Personel Awasi Protokol Kesehatan Tiap Hari

“Area tertib physical distancing ini diterapkan untuk memastikan warga tetap tinggal di rumah dan hanya keluar rumah untuk urusan yang urgent seperi logistik, kesehatan, dan perekonomian atau perdagangan. Sehingga bagi warga yang masuk atau keluar pemukiman akan didata dengan detail,” kata Khofifah.

Imbauan kepada masyarakat, terutama pemudik, agar tak acuh ketika hendak diobservasi dan optimalisasi physical distancing penting dilakukan mengingat makin meluas wilayah persebaran Covid-19 di Jatim. Hingga Jumat ini, sudah 32 kabupaten/kota yang masuk zona merah. Tersisa empat daerah yang berstatus zona kuning, yaitu Kabupaten Ngawi, Kota Madiun, Kabupaten serta Kota Mojokerto.

Dua kabupaten lainnya, yaitu Sampang dan Sumenep, masih berstatus zona hijau. Beberapa pekan lalu gelombang pemudik dari Jabodetabek sudah masuk ke Madura. Dari peta itu, jumlah kasus positif di Jatim hingga saat ini sebanyak 256 orang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 1.333, dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 13.341 orang.

(R. Agung Prunowo)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*