DPR RI Minta Kemdikbud Keluarkan Petunjuk Teknis Relaksasi Pendidikan

2 0
Read Time:3 Minute, 4 Second

Wartaotonomibaru.com
JAKARTA-
Ilustrasi siswa menggunakan platform pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Siswa belajar dari rumah (BDR) telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Sayangnya, menurut Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf Macan Effendi, berdasarkan tinjauan lapangan dan pertemuan webinar bersama sejumlah asosiasi dan penggiat pendidikan, penerapan PJJ di masa pandemi ini belum maksimal.

Untuk itu, Dede mengusulkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengeluarkan petunjuk teknis (juknis) untuk relaksasi pembelajaran agar peserta didik tidak merasa dirugikan selama menjalani PJJ. Apalagi, hingga saat ini belum ada evaluasi langsung dari sekolah kepada siswa.

“Intinya adanya juknis relaksasi pembelajaran ini agar siswa dan guru tetap survive menjalani proses belajar mengajar, tetapi tidak memaksakan ketuntasan kurikulum,” kata politisi partai Demokrat ini kepada Wartaotonomibaru.com Minggu (21/6/2020) petang.

Dede menjelaskan, tidak fokus pada ketuntasan kurikulum ini bertujuan agar guru memberi nilai kepada siswa yang sesuai, tidak berdasarkan kurikulum. Sebab, hal tersebut merugikan siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Usulan ini, kata Dede, akan disampaikan kepada pihak Kemdikbud pada rapat kerja Komisi X DPR bersama Mendikbud Nadiem Makarim beserta jajaran pada Senin (22/6/2020).

Dede menyebutkan, kendala PJJ pada umumnya terjadi karena guru dan siswa masih gagal menggunakan teknologi. Selain itu, ada pula kendala lain seperti kesulitan pulsa dan jaringan internet yang belum ada untuk menerapkan PJJ berbasis daring.

“Meskipun Kemdikbud telah membuat sejumlah kebijakan seperti relaksasi dana BOS (bantuan operasional, red) untuk kuota pulsa dan gaji honorer, tetapi masalahnya adalah kemampuan menguasai teknologi menjadi kendala bagi siswa maupun guru,” kata dia.

Fokus PJJ
Sebelumnya, Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Hamid Muhammad mengatakan, sebetulnya pihak Kemdikbud telah melakukan evaluasi kegiatan BDR. Bahkan, sudah ada hasil asesmen dari Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemdikbud.

Baca juga :   11 Pati Polri Naik Pangkat, Brigjen Herman Jabat Kepala Satuan Bina Pelatihan IPDN

“Hasil evaluasi menyebutkan, memang akses internet guru dan siswa rata-rata hanya 51% yang efektif. Artinya, ada akses internet. Kemudian internet dijadikan media kegiatan pembelajaran. Ada yang blended learning (campuran,red). Jadi ada yang pakai akses internet daring tetapi ada juga yang sifatnya penugasan secara manual. Namun ada sebagian sekolah itu yang memang mau tidak mau harus manual atau luring. Itulah kenapa awal-awal banyak yang mengusulkan agar televisi dioptimalkan. Begitu televisi kita keluarkan, sangat membantu sekolah yang pakai luring,” kata Hamid.

Hamid menuturkan, Kemdikbud akan fokus memaksimalkan PJJ. Seperti diketahui, kegiatan PJJ dibagi menjadi tiga pendekatan yaitu PJJ daring, semi daring, dan luring. Sedangkan untuk wilayah terpencil (remote area), siswa dijangkau melalui program televisi dan radio.

Kendati demikian, Hamid menegaskan, program kerja sama Kemdikbud dengan televisi dan radio bukan menjadi media pembelajaran utama, melainkan hanya sebagai sarana pendamping.

“Program TVRI dan RRI itu sebagai komplemen, bukan pengganti sepenuhnya terhadap pembelajaran luring. Jadi guru harus tetap berkomunikasi dengan orang tua dan siswa agar pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan,” kata Hamid.

Hamid menambahkan, selain televisi, daerah seperti Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Halmahera di Maluku Utara menjangkau siswa menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) atau radio lokal atau komunitas. “Ini membantu jaringan,” ujarnya.

Sementara itu, untuk wilayah terpencil yang tidak dapat dijangkau dengan televisi dan radio, maka hal yang dilakukan para guru adalah mengunjungi siswa sehingga pembelajaran terjadi di rumah siswa dalam kelompok-kelompok kecil.

“Memang tugas berat bagi guru kalau dilakukan secara manual. Itulah kenapa ketika nanti tahun ajaran baru, sebagian besar sekolah masih menjalankan PJJ, maka ini yang akan terus diperkuat,” ujarnya.

Baca juga :   Wakil Wali Kota Depok Terima Kunjungan Komisi V DPRD Jabar

Hamid menambahkan, Kemdikbud merekomendasikan 23 laman yang bisa digunakan peserta didik sebagai sumber belajar. Selain itu, Kemdikbud juga akan mendukung PJJ melalui aplikasi Rumah Belajar, TV Edukasi, kerja sama dengan TVRI yang akan diperpanjang, serta penyediaan kuota murah/gratis oleh para penyedia telekomunikasi.

David/Stevani
Wartaotonomibaru.com

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*