Sejarah Perkembangan Pers Indonesia Perlu Diketahui bukan Dijauhi




1 0
Read Time:3 Minute, 24 Second

Gunungkidul, wartaotonomibaru.com – Beberapa Tim Media dari Warta otonomi yang bertugas di wilayah Hukum DIY Khususnya Gunungkidul Bahwa pada tanggal 10/02/2022 Penggalian informasi kepada Masyarakat tentang pentingnya Media di Kalurahan Purwodadi Kapanewon Tepus Kabupaten Gunungkidul, DIY. Pada hari Jum’at legi 04 Februari 2022 saat ada Acara Bersih Watu Suweng (Gunung Batur).

Disini sebagai narasumber adalah Kepala Dusun dan Tokoh Masyarakat yang enggan di sebutkan jati dirinya menyampaikan, mirisnya sudut pandang oknum Pemerintah Kalurahan Purwodadi tentang Wartawan.

Dukuh (S) menyampaikan kepada awak media, “Walaupun saya bukan seorang Wartawan, akan tetapi saya mengetahui bahwa Wartawan itu tugasnya menggali informasi, dan apabila Pemerintah Kalurahan Purwodadi kehadiran Wartawan dari redaksi manapun, ajaklah komunikasi dan duduk bersama, jawablah pertanyaan dan berilah informasi dengan transparan kepada awak media”, katanya.

Karena tugas Wartawan memang seperti itu, menggali informasi dan memberi informasi, Jangan seakan di Hindari. Kadang yang bersikap seperti itu (Alergi sama Wartawan) bukan hanya satu dua Instansi, kenapa bisa seperti itu. “Bersama dengan Hari Pers Nasional 09 Februari maka hal ini saya berharap Pemerintah maupun Instansi yang lain perlu membangun kerjasama yang baik dengan Para Wartawan dari media manapun, biar bisa menunjukan Ketransparannya”, imbuhnya.

Menyikapi masukan dari Narasumber tersebut mengenai pentingnya Media Tim redaksi dari Warta otonomi menyikapi masukan dari Narasumber sangat memberikan Apresiasi yang Luar biasa.

Dewan Redaksi dari Warta otonomi memberikan sedikit gambaran dan sejarah singkat mengenai PERS. Pers Indonesia dimulai Sejak dibentuknya Kantor berita ANTARA didirikan tanggal 13 Desember 1937 sebagai kantor berita perjuangan dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, yang mencapai puncaknya dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Hari Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Februari, diambil dari tanggal lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946. Hari Pers Nasional ditetapkan Presiden Suharto pada 1985 melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional.

Lahirnya Pers Indonesia

Keinginan menerbitkan surat kabar di Hindia Belanda saat itu sebenarnya sudah sangat lama, tetapi selalu dihambat oleh pemerintah VOC. Baru setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff menjabat, terbitlah surat kabar “Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen” yang artinya “Berita dan Penalaran Politik Batavia” pada 7 Agustus 1744.

Ketika Inggris menguasai wilayah Hindia Timur pada 1811, terbit surat kabar berbahasa Inggris “Java Government Gazzete” pada 1812. “Bataviasche Courant” kemudian diganti menjadi “Javasche Courant” yang terbit tiga kali seminggu pada 1829 yang memuat pengumuman-pengumuman resmi, peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. 

Pada 1851, “De Locomotief” terbit di Semarang. Surat kabar ini memiliki semangat kritis terhadap pemerintahan kolonial dan pengaruh yang cukup besar.  Abad ke-19, untuk menandingi surat kabar-surat kabar berbahasa Belanda, muncul surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa meskipun para redakturnya masih orang-orang Belanda, seperti “Bintang Timoer” (Surabaya, 1850), “Bromartani” (Surakarta, 1855), “Bianglala” (Batavia, 1867), dan “Berita Betawie” (Batavia, 1874).

Pada 1907, terbit “Medan Prijaji” di Bandung yang dianggap sebagai pelopor pers nasional karena diterbitkan oleh pengusaha pribumi untuk pertama kali, yaitu Tirto Adhi Soerjo. Ketika Jepang berhasil menaklukkan Belanda dan akhirnya menduduki Indonesia pada 1942, kebijakan pers turut berubah. Semua penerbit yang berasal dari Belanda dan China dilarang beroperasi. Sebagai gantinya penguasa militer Jepang lalu menerbitkan sejumlah surat kabar sendiri. 

September hingga akhir 1945, pers nasional semakin kuat ditandai dengan penerbitan “Soeara Merdeka” di Bandung dan “Berita Indonesia” di Jakarta, serta beberapa surat kabar lain, seperti “Merdeka”, “Independent”, “Indonesian News Bulletin”, “Warta Indonesia”, dan “The Voice of Free Indonesia”.

Saat itu terdapat lima surat kabar yaitu Jawa Shinbun yang terbit di Jawa, Boernoe Shinbun di Kalimantan, Celebes Shinbun di Sulawesi, Sumatra Shinbun di Sumatra dan Ceram Shinbun di Seram. Kehidupan pada 1950-1960-an ditandai oleh munculnya kekuatan-kekuatan politik dari golongan nasionalis, agama, komunis dan tentara.

Pada masa ini sejumlah tonggak sejarah pers Indonesia juga lahir, seperti LKBN Antara pada 13 Desember 1937, RRI pada 11 september 1945, dan organisasi PWI pada 1946 yang kemudian menjadi cikal bakal Hari Pers Nasional. Lahir pula TVRI, stasiun televisi pemerintah pada 1962.

Pri/Red

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*